Sediakan Waktu!
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kejernihan
Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa Anda ke bintang
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari Tuhan
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu Anda terlalu singkat untuk hidup dalam dunia Anda sendiri
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik bagi jiwa
Sediakan waktu untuk bersama keluarga, itulah mutiara paling indah
Sediakan waktu pribadi untuk bersama Tuhan, itulah sumber kekuatan
Hidup dengan Pikiran yang Dibarui
Dalam Amsal 23:7a Alkitab King James Version (KJV) dikatakan: “For as he thinketh in his heart, so is he.” Bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sebagai berikut: “Sebagaimana dia berpikir di dalam hatinya, demikianlah dia.” Atau bisa juga diterjemahkan menjadi: “Apa yang dipikirkan seseorang, itulah dia.”
Kita tentu tahu bahwa pikiran merupakan pelopor atau pemimpin semua tindakan. Sesungguhnya, semua yang kita lakukan atau tindakan-tindakan kita merupakan akibat langsung dari pikiran kita. Orang yang memiliki pikiran-pikiran negatif biasanya akan memiliki kehidupan yang negatif juga.
Sebaliknya, jika kita bersedia memperbarui pikiran atau budi kita seturut dengan Firman Tuhan, maka kita dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna! Alkitab mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)
Roma 8:5 mengatakan: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh”. Keinginan daging merupakan perseteruan terhadap Allah karena tidak takluk kepada hukum Allah.
Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah. Keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan.
Dalam Galatia 5:19-21 disebutkan bentuk-bentuk perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Kemudian Galatia 5:22 menyebutkan bentuk-bentuk perbuatan Roh (buah Roh): kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak Otomatis
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita, pada saat itu tidaklah secara otomatis pikiran-pikiran kita yang lama telah diperbarui. Mungkin saja pada saat itu kita masih membiarkan diri kita dibelenggu dengan pikiran-pikiran yang tidak berkenan di hadapan Allah (keinginan daging). Pembaruan pikiran merupakan suatu proses dan proses itu berlangsung secara terus menerus di dalam kehidupan kita. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: maukah kita dilepaskan atau dimerdekakan dari belenggu pemikiran-pemikiran yang tidak berkenan di hadapan Allah?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Setiap orang diberikan kehendak bebas (free will) oleh Tuhan untuk menentukan pilihannya. Ingin tetap berada di dalam belenggu atau ingin keluar dari belenggu? Kalau ingin tetap berada di dalam belenggu, turutilah keinginan daging. Tetapi, kalau benar-benar ingin keluar dari belenggu turutilah keinginan Roh. Berbahagialah setiap orang yang bersedia dilepaskan dari belenggu dan mau hidup di dalam kehendak Allah!
Mungkin sudah dari kecil atau bertahun-tahun kita menjadi orang Kristen, tetapi hal itu tidaklah menjamin tingkat kedewasaan rohani kita. Mungkin seringkali kita malah menjadi orang kristen yang tidak percaya (tidak memiliki iman yang teguh), yang tidak mau mengubah cara hidup yang lama, memiliki pikiran seperti orang-orang dunia pada umumnya (orang-orang yang belum mengenal Yesus). Atau mungkin juga kita masih selalu dilanda dengan rasa khawatir yang berlebihan ketika kita menjalani kehidupan yang dianugerahkan Allah kepada kita, selalu hidup di dalam kebimbangan, seperti tidak memiliki pengharapan, tidak pernah merasakan cukup dengan apa yang Tuhan berikan (sulit untuk mengucap syukur), selalu hidup di dalam keterikatan keuangan karena tidak bisa menguasai diri, dan lain sebagainya.
Singkatnya, mungkin seringkali kita masih menjalani kehidupan kita sebagai orang Kristen dengan pikiran-pikiran negatif yang pada akhirnya membuat kita tidak bisa hidup dalam sukacita dan damai sejahtera Allah. Kita biasanya juga masih senang bermain-main dengan dosa, apa pun bentuknya. Hal-hal tersebut membuktikan kalau kita masih senang atau seringkali hidup di dalam belenggu karena kita tidak mau sepenuhnya mempercayai Allah. Dalam keadaan yang seperti ini, kita masih belum menerima kemerdekaan yang sesungguhnya.
Waspadailah Iblis!
Tertulis di dalam Efesus 6:12 demikian: “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”.
Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sesungguhnya terlibat di dalam peperangan, perang bukan melawan manusia (darah dan daging), tetapi melawan iblis (penguhulu-penghulu dunia yang gelap, roh-roh jahat di udara), dan pikiran kita merupakan tempat peperangannya (medan perang).
Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44). Iblis mulai menyerang kita dengan pola pikir yang licik. Iblis tau kegelisahan kita, kelemahan kita dan ketakutan kita. Iblis mengetahui hal-hal yang dapat mengganggu kita. I Petrus 5:8 menyatakan: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Melalui siasat yang cermat dan tipu daya yang sangat licik, iblis berusaha mendirikan “benteng-benteng” di dalam pikiran kita (2 Kor 10:4). Benteng merupakan suatu wilayah di mana di dalamnya kita dibelenggu oleh cara berpikir tertentu. Iblis tahu benar, jika dia dapat mengendalikan pikiran kita, maka dia dapat mengendalikan tindakan kita.
Tetapi syukur kepada Allah, kita memiliki “senjata” yang dapat kita gunakan untuk menyerang atau meruntuhkan benteng-benteng iblis tersebut. Senjata yang pertama adalah pedang Roh, yaitu Firman Allah (Efesus 6:17). Yesus menunjukkan cara meraih kemenangan atas dusta iblis, yaitu melalui Firman Allah (Alkitab).
Kita harus memperoleh pengetahuan yang benar tentang Firman Allah dan memperbarui pikiran kita dengan firman-Nya tersebut. Senjata ini bisa kita peroleh melalui kotbah-kotbah yang kita dengarkan, buku-buku rohani yang kita baca, seminar-seminar yang kita ikuti, pelajaran Alkitab secara pribadi, dan lain sebagainya. Kita harus tetap tinggal di dalam Firman Allah tersebut.
Tuhan Yesus juga menggunakan Firman Allah ketika Dia berada di dalam peperangan rohani secara lansung, yaitu ketika Dia dicobai oleh Iblis di padang gurun (Matius 4:1-11). Taklukkanlah semua pikiran duniawi kita kepada Kristus sama seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus (II Kor. 10:5). Senjata yang kedua adalah doa. Kita harus berdoa setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jaga di dalam doa kita itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya.
Orang Merdeka
Jadi sekarang bagaimana? Sudahkah pikiran kita diperbarui? Apakah kita tetap ingin berada di bawah belenggu atau bersedia menjadi orang yang merdeka? Marilah kita lihat satu contoh keadaan berikut ini dengan harapan dapat memberi gambaran apakah kita masih berada di dalam belenggu atau sudah merdeka. Tentang kegagalan, misalnya. Sebagai orang percaya, bagaimana respons kita ketika diperhadapkan dengan sesuatu yang kita anggap sebagai kegagalan? Kalau kita memberi respons seperti ini: “Gagal lagi, gagal lagi! Aku kok selalu gagal. Ini terlalu sulit bagiku. Sepertinya aku tidak akan pernah berhasil. Ya lebih baik aku menyerah sajalah, sudah tidak ada harapan lagi sepertinya. Aku sudah berdoa, tetapi kok Tuhan sepertinya tidak pernah mendengarkan doaku. Aku sudah jemu berdoa! Huh, aku benar-benar kecewa sama Tuhan!”, bukankah respons seperti ini menandakan kalau kita masih berada di bawah belenggu?
Tetapi, kalau kita memberi respons seperti ini: “Ya, memang segala sesuatu sepertinya berlangsung agak lambat, tetapi syukur kepada Tuhan, aku telah mengalami kemajuan. Aku mengalami keadaan yang sulit kemarin, aku memiliki pikiran yang keliru. Aku telah melakukan kesalahan kemarin, biarlah ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagiku, setidaknya aku tak akan mengulanginya lagi. Tuhan ampunilah aku dan mampukanlah aku untuk tetap bersemangat dan maju terus. Inilah hari yang baru bagiku, aku tahu rahmat-Mu selalu baru setiap pagi. Aku tahu Engkau memiliki rencana untuk aku karena Engkau mengasihi aku. Terima kasih Tuhan untuk segala sesuatu yang telah terjadi,” ini merupakan tanda kalau kita telah mengalami pembaruan di dalam pikiran kita, dan kita menjadi orang yang merdeka!
Kalau kita merelakan pikiran kita dibarui dan terus menerus dibarui oleh kuasa Allah, maka kita tidak akan lagi hidup di bawah belenggu, tetapi kita akan menjadi orang yang merdeka mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah! Memang, pembaruan pikiran itu merupakan suatu proses dan biasanya tidak berlangsung secara cepat.
Mungkin di dalam proses itu kita akan merasa kalau segala sesuatunya berjalan agak lambat, dan berkata, “Mengapa saya sulit sekali untuk berubah?” Meskipun demikian, janganlah menjadi putus asa. Teruslah berjuang, mohon kemampuan dari Tuhan, sehingga tidak lagi menjadi “budak,” melainkan menjadi orang merdeka! Tuhan Yesus memberkati.
Tags: Add new tag, van huka sky
August 16, 2008 at 1:00 pm
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.